BUDAYA KITA, SAMPAH, DAN DAUR ULANG
May 15th, 2008 by ardy-c00lAbstraksi
Jogjakarta
mendapat julukan sebagai kota budaya. Sebagai kota budaya, Jogjakarta
menyimpan banyak sekali budaya khas Jawa Mataram serta menjunjung
tinggi nilai-nilai tradisional. Falsafah Jawa yang ada pun menyiratkan
nilai budaya yang adiluhung sehingga masyarakatnya sangat ramah dan
bersikap sederhana, menghormati orang lain, dan juga menjaga serta
memperhatikan lingkungan sekitarnya.
Namun
pada beberapa tahun terakhir ini, banyak sekali permasalahan yang
muncul. Disamping masalah ekonomi, dimana terjadi pergeseran pola hidup
yang cenderung mengikuti pola konsumerisme, salah satunya adalah
berbelanja berbagai jenis barang yang berpotensi menghasilkan sampah.
Selain itu, semakin bertambahnya penduduk yang tinggal di kota
Jogjakarta, permasalahan lingkungan hidup juga menjadi semakin nyata.
Kendaraan bermotor semakin bertambah banyak dan memadati jalan,
sedangkan pohon-pohon yang berfungsi sebagai penyerap gas yang
dihasilkan kendaraan bermotor semakin berkurang dan kadang dengan
sengaja dikurangi. Alhasil kualitas udara di kota Jogjakarta menjadi
sangat terpolusi dan mengancam kesehatan masyarakat Jogjakarta. Keluhan
yang seringkali terlontar dan ini memang dirasakan langsung oleh
sebagian besar orang, yaitu kota Jogjakarta menjadi semakin panas.
Dari
beberapa hal pendek tersebut diatas, apakah nilai-nilai tradisional
yang ada mulai tergeser oleh arus globalisasi yang memang berjalan
cepat dan kuat, tidak kuasa untuk menghindarkan, dalam hal ini dengan
konsekuensi yang dihasilkan dari sisa-sisa fungsi dari konsumsi dan
aktifitas-aktifitas keseharian lainnya.
Siapakah Sampah ?
Sampah
adalah sesuatu yang tidak berguna lagi dan dibuang oleh pemiliknya atau
pemakainya semula (menurut Dr. Tandjung .M.Sc.. 1982). Sampah adalah
bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa
atau utama dalam pembuatan atau pemakaian, barang rusak atau cacat
dalam pembuatan (manufaktur), atau materi berlebihan atau ditolak atau
buangan (menurut Kamus Istilah Lingkungan,1994). Sampah adalah suatu
bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber aktivitas manusia maupun
proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis (menurut Istilah
Lingkungan untuk Manajemen, Ekolink, 1996).
Berdasarkan jenisnya, sampah padat dapat digolongkan sebagai :
- sampah
organik, terdiri dari bahan-bahan penyusunan tumbuhan dan hewan yang
diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan,
atau yang lain. Sampah ini dapat mengalami perubahan atau terurai
secara alami (degradable-waste). Antara lain seperti daun-daunan, sisa
makanan, sisa tepung, kulit buah, kotoran, dan lain-lain. - sampah
non organik, berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat terbaharui
seperti mineral dan minyak bumi atau dari proses industri. Beberapa
dari bahan ini tidak terdapat di alam seperti plastik, styrofoam, dan
aluminium. Sebagian zat non organik secara keseluruhan tidak dapat
diuraikan oleh alam, sedang sebagian lagi yang lain hanya diuraikan
dengan waktu yang sangat lambat dan lama. Sampah jenis ini pad tingkat
rumah tangga berupa plastik, kaca, kaleng, styrofoam, dan sejenisnya.
Ini disebut juga non degradable-waste.
Sumber Sampah
Dilihat
dari tempat asalnya sumber sampah yang ada di perkotaan berasal dari
hasil aktifitas-aktifitas kehidupan kota, seperti sampah dari pasar,
sampah dari pemukiman, perkantoran, industri, rumah sakit,
transportasi, dan lain-lain.
Masalah Yang Dapat Timbul Jika Sampah Tidak Dikelola
Masalah-masalah
lingkungan seperti got mampet, penyakit menular, hama, dan lain-lain
adalah sebagi bentuk pencemaran lingkungan yang sebagian besar diawali
dan diakibatkan oleh limbah-limbah yang tidak terurai dengan baik.
Penanganan limbah/sampah yang telah dimulai sejak dini/awal yang
dimulai dari lingkup kecil rumah tangga/dasa wisma, jelas akan sangat
memudahkan dan membantu dalam penanganannya yang lebih luas, mengurangi
biaya dan tenaga kerja.
Pengelolaan
sampah yang kurang mewadahi (pembuangan yang tidak terkontrol)
merupakan tempat yang baik bagi beberapa organisme dan menarik bagi
berbagai binatang lalat dan anjing yang dapat membawa penularan
penyakit.
· Kesehatan
Timbunan
sampah yang tidak dikelola akan menimbulkan bau bususk, apalagi bila
terkena air hujan. Dari sini, karena tercampur air dan membusuk ini,
timbunan sampah tersebut akan menghasilkan air lindi, yang ini dapat
mengakibatkan air tanah dan air permukaan menjadi tercemar.
Hal
ini pernah terjadi pada tahun 2000-an, beberapa sumur penduduk dan
sungai tercemari oleh air lindi yang keluar dari timbunan sampah di
Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Piyungan. Salah satunya, ketika
dipakai untuk mandi menimbulkan gatal-gatal.
Sampah plastik, kaleng, styrofoam dan sejenisnya yang sulit terurai akan mengakibatkan pencemaran tanah.
Selain
itu, timbunan sampah yang membusuk akan mengundang lalat dan nyamuk
untuk bersarang, dan seperti yang kita semua ketahui, bahwa melalui
perantaraan binatang ini lah beberapa jenis penyakit akhirnya akan
dapat mengganggu kesehatan manusia.
Penyakit
diare,kolera dan tifus dapat menyebar dengan cepat karena sampah
mencemari sumber air minum. Penyakit demam berdarah dapat juga
meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang
mewadahi.
Penyakit
dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah
suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Dimana
cacing dikonsumsi sebelumnya oleh binatang ternak melalui makanannya
berupa sisa makanan/sampah.
Sampah
beracun : Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang
meninggal karena keracunan mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi
oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut
oleh pabbrik yang memproduksi batere dan accumulator (sekitar akhir
tahun 90-an). (dan kita baru saja, ingat Tragedi Teluk Buyat)
· Estetika
Dari segi estetika, sampah yang berserakan akan merusak pemandangan dan menimbulkan kesan kumuh.
Beberapa Alternatif Penanganan Sampah
Sanitary Landfill (Sistem Pengelolaan Sampah Akhir) . Cara
ini merupakan metode pembuangan akhir sampah yang sehat, apabila dengan
melengkapi TPA yang ada dengan fasilitas pendukung yang memadai dan
mengusahakan perlindungan lingkungan yang seksama dalam mencegah
pencemaran akibat penimbunan sampah (AMDAL adalah salah satu
instrumennya). Pencemaran lingkungan sekitar dikurangi dengan
memberikan lapisan kedap air pada dasar landfill, sistem pengumpul dan
pengolah air lindu, ventilasi gas, dan tanah penutup harian.
Ekonomi Alternatif. Sampah
organik dari pasar berupa sayuran (kobis,slada air,sawi), daun pisang,
dan sisa makanan biasanya diambil untuk makanan binatang ternak seperti
kelinci, kambing, babi, dan juga ayam atau itik. Hal ini sagat
bermanfaat sebab selain mengurangi jumlah sampah juga mengurangi biaya
peternakan. Namun sampah ini harus diproses dulu sebelum dikonsumsi
oleh ternak, sebab akan dapat bermasalah jika sampah organik tadi
bercampur dengan sampah-sampah yang mengandung logam-logam berat yang
dapat terakumulasi dalam tubuh ternak.
Hobi Berkebun dan Stress.
Merupakan upaya pengelolaan sampah dengan mendaurnya menjadi
bahan-bahan kompos yang dapat menyuburkan tanah.Sistem ini mempunyai
prinsip dasar mendegradasi bahan-bahan organik secara terkontrol dengan
memanfaatkan mikroorganisme. Sistem pengomposan ini mempunyai banyak
keuntungan, antara lain merupakan jenis pupuk yang ekologis dan ramah
lingkungan, bahan yang dipakai ada di sekitar kita dan tidak usah
membeli, dapat membuat sendiri karena tidak menggunakan peralatan dan
instalasi yang mahal, unsur hara oleh pupuk ini akan bertahan lama
dibanding deengan pupuk buatan pabrik, dan termasuk salah satu
kreatifitas dan managemen stress yang murah dalam penyaluran hobi
berkebun di pekarangan rumah, plus sambil penghijauan untuk lingkungan
terdekat kita.
Gaya Hidup Ramah Lingkungan. Selain itu tentunya dengan selalu mencoba untuk bergaya hidup ramah lingkungan, antara lain dengan menerapkan :
Recycle,
mengolah kembali yaitu kegiatan yang memanfaatkan barang bekas dengan
cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut.
Reduce,
mengurangi adalah semua bentuk kegiatan atau pola perilaku yang dapat
mengurangi produksi sampah,tidak melakukan pola konsumsi yang
berlebihan, jadi konsumsi berdasarkan kebutuhan saja bukannya keinginan.
Replace,menggantikan
dengan bahan yang bisa dipakai ulang, upaya mengubah kebiasaan yang
dapat mempercepat produksi sampah. Mengganti kebiasaan menerima banyak
kantong plastik belanjaan, dengan membawa tas belanja sendiri dari
rumah, berarti mngurangi potensi menumpukknya sampah kantong plastik di
rumah anda sendiri.
Refill,
mengisi ulang wadah-wadah produk yang dipakai. Beberapa produk menjual
juga edisi isi ulang/refill, dengan demikian akan mengurangi potensi
menumpuknya sampah wadah produk di rumah anda.
Replant,
menanam kembali. Dengan berkreatifitas melakukan pengomposan dan
berkebun di pekarangan rumah, dengan menanam juga beberapa pohon
perindang, akan sangat membantu pengaturan suhu pada tingkat lingkungan
mikro (atau sekitar rumah anda sendiri), dan akan membantu mengurangi
keluhan peningkatan suhu global yang mengalami peningkatan semakin
panas.
“ Minimalisir Sampah Mulai Dari Sekitar Kita “











1.
frida | 26 April, 2008 at 5:23 pm
Pengalaman membuktikan, hobi berkebun bermanfaat untuk ketenangan jiwa, kekuatan tulang (karena mandi cahaya matahari pagi), kesehatan tubuh (keringat keluar = racun keluar) dan perbaikan lingkungan (supply oksigen meningkat).
Meski lahan sempit, beragam jenis pohon tidak menuntut tempat bersangga yang luas, jadi bisa kita gunakan pot.
Kupu2 datang, burung2 mengendap2. Nikmati keajaiban alam.
Ayo menanam pohon!